oleh Meisa Safitri pada 19 November 2010 jam 17:20
“Abang lulus Neng”
Hanya itu yang diucapkan, Abang berlari menuju dapur tempat ambu berada, pagi ini ambu tidak kepasar. sepertinya Abang sangat tak sabar ingin menyampaikan kabar bahagia ini. Akupun segara bergabung dalam percakapan mereka yang sudah ketinggalan beberapa menit.
“ Nati Ali mau ke
Aku dan ambu tersenyum bahagia, Abang begitu yakin dengan impiannya, semenjak 2 tahun lalu walaupaun masih bersekolah Abang berusaha menggantikan posisi abah yang telah pergi lebih dahulu. Sehari-hari sepulang sekolah Abang pergi ke pasar, di
Bingkai lukisan itu masih menemani ku, lukisan air hujan tergores begitu indah menghiasai gubuk kami. Pagi itu keberangkatan Abang ke
***
Hujan masih menemaniku, tapi kini tak seramah hari yang lalu, gemuruh petir sesekali terdengar. Sudah satu minggu Abang merantau di
“ Ali sudah berusaha melamar dari perusahaan satu ke perusahaan yang lainnya. Dan sama saja hasilnya, karena perusahaan-perusahaan tersebut semuanya ada tes buta warna. Maafin Abang Bu, Neng.”
Ambu beruaha menenangkan hati Abang. Meyakinkan Abang bahwa mencari rezki bukan hanya di ibu
“Beristirahatlah Bang, pasti kau sangat leleh.”
Kemudian hening menguasai.
***
Dua hari telah berlalu. Di kamar itu ku habiskan banyak waktu untuk sendiri, aku tak ingin terusik. Sejakku tahu abang tak mungkin bisa menyekolahkanku, hatiku begitu hancur, hanya abang satu-satunya harapanku. Aku hanya bisa menangis dan menangis di kamar itu. Impian menjadi sarjana kini hanya angan belaka. Aku marah, marah pada kenyataan ini. Abang mendatangiku, dia membelai jilbab putih yang suadah keabu-abuan yang menutupi rambutku.
“Maafin Abang Neng, telah mengecewakan hatimu, tapi Abang akan berusaha agar kamu bisa menjadi sarjana.”
Mendengar kata-kata itu, air mataku mengalir semakin deras membasahi jilbab putih keabu-abuanku, aku menangis sejadi-jadinya menyalahkan diriku yang begitu picik. Aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpan mempeduliakan perasaan abangku. Harusnyan aku yang menenagkannya, karena fonis buta warna yang di deritanya, harusnya aku yang menegarkan hatinya karena impiannya bekerja di ibu
Maafkan aku Bang.
***
Tepat 1 minggu setelah kelulusanku Abang mengantarku ke sebuah universitas untuk mendaftar di
“ Bang sudah siang, yuk pulang! kasihan Ambu di rumah sendirian.”
Tak banyak bicara Abang mengikuti ajakkanku sambil membawa secarik kertas tersebut. Disepanjang perjalanan Abang begitu serius melihat daftar rincian biaya tersebut, tak tega rasanya. Sepanjang perjalanan pulang dalam angkot hanya hening yang tercipta, aku dengan pikiranku sendiri dan abang dengan pikiranya sendiri.
***
Malam kian larut setelah shalat isya, aku beranikan diri untuk bicara pada Abang, kalau Abang tidak usah pusing memikirkan pendididkanku, aku sudah ikhlas jika tidak bisa meneruskan sekolah. Ku buatkan secangkir teh hangat untuknya, ku harap secangkir teh hangat ini mampu mengusir sedikit penatnya. Kukumpulkan segenap keberanian untuk bicara padanya, namun sebelum satu kata pun terucap dari mulutku abang mendahuluiku bicara.
“ Insyaaallah Neng, kamu bisa meneruskan sekolahmu. Untuk uang gedung kita bisa pake uang peninggalan abah, Abang kira itu lebih cukup dan sisanya bisa buat biaya kosmu beberapa semester.”
“ Bang.......”
Hanya kata itu yang mampu teruacap, karena aku tak mampu menahan bendungan air mata ini, bagaimana bisa Abang berfikir menggunakan uang peninggalan abah yang abah sediakan untuk pernikahan Abang. Abang, kau selalu memikirka adikmu ini sampai mengenyampingkan dirimu sendiri, masa depanmu sendiri, air mataku semakin deras.
***
.........................................................................................................................................
Angin bertiup dari utara membawa wangi hujan ke kamar yang berukuaran 2 x 2,5 m, dikamar itu aku mualai berkutat dengan buku-buku. Dikamar ini pula aku merajut mimpi-mimpi masa depan. Aku tak ingin mengecewakn keluargaku terutama Abangku yang bersusah payah menguliahkanku dengan penghasilanya yang pas-pasan sebagai pengusaha bengkel kecil-kecilan. Pernah aku berniat untuk bekerja sambil kuliah, tapi Abang marah. Alasanya karena khawatir jika nanti aku tidak fokus dengan kuliahku. Aku sudah berusaha dan menyakinkan Abang, walau jika nanti aku bekerja, aku tidak akan meninggalkan kuliahku, aku akan tetep fokus dengan kuliahku, tapi abang semakin marah. Aku tau Abang orang yang sangat perinsip setelah kepergian abah dia merasa bahwa dialah yang bartanggunagjawab atas kami, yaitu aku dan ambu. Bersikerasku jika terusku paksakan akan melukai hati Abang, abang akan merasa kalau aku meremehkannya. Dan itu bisa membunuh harga dirinya. Abang adalah orang yang palingku sayangi, jika sutu hari nanti Allah memanggilku kemudian aku diberi ijin menuju janahnya dan boleh membawa orang-orang yang ku kasihi Abanglah orang ketiga yang ku sebut setelah ambu dan abah, bukan orang yang kelak menjadi suamiku atau anak-anaku. Tiba-tiba aku teringat masa kecilku, saat masih duduk dikelas 2 SD tanpa sengja aku memecahkan piring oleh-oleh Haji Jajang buat Abah, kata Haji Jajang gambar masjid pada piring itu ada yang menggunakan tintah emas, Abah sangat sayang denagn piring itu. Saat itu gambar dan warna keemasa piring itu menarik perhatianku. Aku mengmbilnya, mengisinya dengan nasi dan ikan asin, saat hendak menambahkan sayur tangan mungilku tak mampu menahan berat piring tersebut dan jatuhlah piring tersebut. Aku panik, mendadak mukaku pucat pasif abang yang datang saat itu sangat terkejut. Saat itu Abang masih duduk di kelas 5 SD. Abang membereskan pecahan piring itu dan mencariku. Aku takut setengah mati hingga bersembunyai di samping lemari pakain kamarku, ada celah kecil disana dan pas untuk tubuh mungilku.
“Nisa takut bang” uacapku sambil terisak-iasak.
Abang menenangkanku dan menyat air mataku dengan ujung baju seragam sekolahnya.
“Sudah nati Abang yang ngomong sama Abah.
Kira-kira tengah hari Abah pulang dari sawah. Benar saja Abah marah bukan kepalang saat tau piring kesayangannya pecah. Abah mengambil sebatang ranting dari belakang rumah dan memukulkanya pada telapak tangan Abang. Aku hanya biasa menangis dan diam dalam ketakutan. Membiarkan Abang menerima hukuman atas kesalahanku. Malam itu Abang meringkik kesakitan, sambil meniup-niup telapak tangannya sesekali dia nyengir padaku beruasa nenghilangkan kekewatira dan rasa bersalahku. Ku buatkan secangkir teh hangat untuknya, namun saat hendak mengabil cangkir itu tangan abang serentak melepasnya, abang kembali meniup-niup telapak tangannya. Dan akhirnya akulah yang meminumkan teh hangt itu untuknya. Malam itu Ambu membalur telapak tanganga Abang dengan minyak tawon hingga Abang tertidur dipangkuan Ambu.
“
Sapaan zilfa mebuyarakan kenanganku.
“Ya, ada apa Zil?”
“Kemarin saat kamu masih dikampus ada yang mencarimu, laki-laki.”
“Oya? Siapa?”
“Kurang tau, waktu ditanya siapa dia cuman senyum, katanya hari ini mau ke sini lagi. Sory ya
“Ya, nga papa Zil, makasih”
Seorang laki-laki mencariku? Siapa? , batinku
Hari itu aku tidak pergi kemana-mana kebetulan ini free day-ku. Aku menunggu kadatangan laki-laki itu, mungkinkah itu Abang? Tapi kalau itu Abang kenapa dia tidak bilang dia Abangku. Anganku terus menerawang dan menerka-nerka siapa laki-laki kemarin yang mencariku. Tiba-tiba Zilfa kembali mendatangiku.
“
“Ooo gitu, ya udah aku temuain dulu dia, makasih ya.... “
Aku bergegas menemui laki-laki itu dengan penuh penasaran. Seketika aku terkejut laki-laki itu adalah Abang. Tubuhnya kini kian mengurus, kulitnya kusam.
“Abang....? sini masuk!
“Ga usah di sini saja”
“Loh kok? Sini masuk!” paksaku
“Ga usah
Akhirnya aku mengalah, aku bertanya prihal kedatangan Abang. Ternyata Abang ingin main, dia bilang kangen sama aku. Kebetulan kang Usep ngajak Abang bantu-bantu di proyek bangunan dekat universitasku, bengkel sedang sepi katanya. Aku sangat senang dengan kedatangan Abang. Saat aku menanyakan kenapa Abang tidak memberi tahu Zilpa bahwa Abang adalah Abangku. Abang hanya tersenyum kecil dan menjawab. ” Abang takut menggangu ketenanganmu nanti. Kau liahatkan abangmu ini jelek, dekil lagi. Lihat baju Abang banyak sisa adukan semen, lebih baik teman-temanmu tidak pernah tau kalau aku ini Abangmu.”
Air mata ku mulai membendung lagi tapi ku tahan agar Abang tak tau, sangat sakit menahanya.
“Astagfirullah.... Abang.... kenapa berfikiran seperti itu, Nisa tidak sedikitpun punya pikiran seperti itu. Justru Nisa bangga memiliki Abang seperti bang Ali.”
Air mataku tak terbendung lagi, kini Abang bisa melihat butira-butiran itu dari mataku.
Abang terdiam sejenak.
“Maafin Abang Neng Abang nga bermaksud bikin neng menangis, maaf...”
Hanya hening yang menguasai beberapa menit saat itu, tentu aku tau Abang tak pernah berfikir membuatku kecewa hingga cara perfikirnya berlebihan. Abang tak lama-lama di
Itulah Abangku selalu memikirkaku hingga lupa memikirkan dirinya sendiri, suatu hari aku dikejutkan dengan berita bahwa teh Euis kekasing Abangku sudah dipingang oleh orang lain. Aku tau kabar itu dari Didin teman satu kampun yang kuliah di universitas yang sama denganku, kebetulan Didin baru pulang kampung. Aku kaget bukan kepalang mendengar berita itu dan memikirkan bagaimana perasaan Abang. Bergegas aku menanyakan kebenaran berita itu pada Abang. Dan ternyata benar bahwa teh Euis sudah di pinang orang lain. Terasa ada sesuatu yang hangat yang merayap di pipiku. Butiran-butira ini kini meleleh. Teh Euis menerima pinangan itu pasti karena Abangku belum juga meminangnya. Aku tak menyalahkan teh Euis karena meninggalkan Abangku, apalagi menyalahkan Bang Ali, Abangku. Mana mungkin Abang bisa meminang teh Euis jika uangnya terus-terusan aku pakai. Aku terus menangis dan menagis, lagi-lagi Abang mengorbankan dirinya untukku. Seandainya saja aku tidak terus menguras uang Abang pasti Abang dan teh Euis suadah menikah. Aku terus dan terus menyalahkan diriku.
***
Akhirnya aku mendapatkan gelar S1. Psi, dan sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta dibagian HRD, tak lama aku pun menikah denga seorang pria yang begitu baik dan menyayangiku. Dia bekerja di sebuah sekolah menengah pertama negri. Di usia enam bulan pernikahan kami, suamiku diangkat menjadi pegawai negri. Alhamdulillah kini aku tidak lagi membebani Abangku. Sampai kapanpun aku takkan pernah bisa membalas budi Abangku. Suamiku begitu menghormati Abangku. Di usia 35 tahun Abang belum juga menikah. Jika memikirkan itu aku kembali merasa bersalah. Karena salah satu faktor yang menghambat Abang menikah pasti yaitu aku. Suatu ketika aku meminta bantuan kepada suamiku untuk mencarikan pekerjan buat Abangku, allhamdulillah di tempat suamiku mengajar ada lowongn sebagai TU. Tapi dengan tegas Abang menolaknya. Aku dan suamiku kecewa dengan penolakan itu. Ke egoisa Abang kali itu membuatku marah. Tidak seharusnya Abang memikirka gengsinya. Sampai kapan Abang mau terusa jadi kuli kasar, aku benar-benar kecewa dan tidak bisa mentolerinya.
Suatu hari Abang jatuh sakit, dokter bilang Abang kecapeaan luar biasa, hingga harus diopnam. Aku dan suamiku bergegas menjenguk Abang. Aku sangat kawatir melihat keadaan Abang. Tubuhnya yang kurus harus di tusuk dengan jarum infus. Abang tersenyum kecil dalam kelemahan pada kami. Aku menangis di hadapannyan. Dan memarahinya, seandainya saja Abang mau menerima pekerjaan yang ditawarkan suamiku tentu nasibnya sekarang tidak seperti itu, terbaring di rumah sakit. Namun Abang berbalik memarahiku.
“ Apa kamu tidak kasihan dengan suamimu, suamimu baru saja diangkat. Coba pikirkan bagaiman wibawanya nanti. Jika aku masuk saat itu akan banyak tudingan miring dari orang lain kalau suamimu KKN. “
Hening menguasai. Ku lihat lapisan bening pada mata kekar suamiku, sumiku begitu terharu, Abagku begitu peduli terhadapnya hingga memikirka hal sejauh itu. Sedangkan aku hanya menangis dan menangis menyesal telah merasa benar, memarahi Aabangku, bahkan sempat bersuudzan padanya. Abang tak pernah berhenti memikirkanku sehinga dia melupakan dirinya, kesehatannya, masa depannya. Kau Abang sekaligus Abah bagiku. Abang...., Aku menyanyangimu Bang.
***